Selasa, 02 April 2013

Askep Leukimia 4B Stikes NHM


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
       Leukimia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dari sumsum tulang dan kelenjar limfa. Sifat khas leukimia adalah proliferasi tidak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sumsum tulang, menggantikan elemen sumsul tulang normal. Selain itu proliferasi juga terjadi di hati,limpa dan nodus limfatikus dan infasi organ non hematologi. Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam sumsum tulang dan limfa nadi. Sifat khas leukemia adalah proliferasi tidak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sumusm tulang, menggantikan elemen sumsum tulang normal. Selain itu juga proliferasi terjadi di hati, limpa dan nodus limfatikus, dan invasi organ non hematologis, seperti meningens, traktus gastrointesinal, ginjal dan kulit.

Insidensi Leukemia di Amerika adalah 13 per 100.000 penduduk /tahun. Leukemia pada anak berkisar pada 3 – 4 kasus per 100.000 anak / tahun . Untuk insidensi ANLL di Amerika Serikat sekitar 3 per 200.000 penduduk pertahun. Sedang di Inggris, Jerman, dan Jepang berkisar 2 – 3 per 100.000 penduduk pertahun.  Di Indonesia sendiri pada sebuah penelitian tentang leukemia di RSUD Dr. Soetomo/FK Unair selama bulan Agustus-Desember 1996 tercatat adalah 25 kasus leukemia akut dari 33 penderita leukemia. Dengan 10 orang menderita ALL ( 40% ) dan 15 orang menderita AML (60%) ( Boediwarsono, 1998). Berdasarkan dari beberapa pengertian mengenai Leukemia maka kami mengambil kesimpulan bahwa leukemia merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh prolioferasi abnormal dari sel-sel leukosit yang menyebabkan terjadinya kanker pada alat pembentuk darah.

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1        Apa pengertian leukemia ?
1.2.2        Apa etiologi leukemia ?
1.2.3        Apa  saja klasifikasinya ?
1.2.4        Bagaimana patofisiologi leukemia ?
1.2.5        Bagaimana manifestasi klinis leukemia ?
1.2.6         Bagaimana pemeriksaan penunjangnya ?
1.2.7         Bagaimana penatalaksanaan medisnya ?
1.2.8         Bagaimana prognosisnya ?
1.2.9         Apa saja komplikasi dari leukemia ?
1.2.1.0      Bagaimana konsep keperawatan Leukemia ?

1.3   Tujuan
1.3.1        Mengetahui pengertian leukemia.
1.3.2        Mengetahui etiologi leukemia.
1.3.3        Apa  saja klasifikasinya
1.3.4        Mengetahui patofisiologi leukemia
1.3.5        Mengetahui manifestasi klinis leukemia
     1.3.6        Mengetahui pemeriksaan penunjangnya           
1.3.7        Mengetahui penatalaksanaan medisnya
1.3.8        Mengetahui prognosisnya         
1.3.9         Apa saja komplikasi dari leukemia
     1.2.1.0      Mengetahui konsep keperawatan leukemia 

        1.4    Manfaat
1.4.1 Untuk dapat mempelajari dan mengetahui apa definisi dari penyakit tersebut,bagaimana etiologinya,patofisiologinya,dan supaya bisa memahami dan mempelajari konsep keperawatan penyakit leukimia tersebut


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI LEUKIMIA
           Leukimia merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan proliferasi dini yang berlebihan dari sel darah putih. Leukimia juga bisa didefinisikan sebagai keganasan hematologis akibat proses neoplastik yang disertai gangguan diferensiasi pada berbagai tingkatan sel induk hematopoietik. Leukimia adalah proliferasi sel darah putih yang masih imatur dalam jaringan pembentuk darah. (Suriadi, & Rita yuliani, 2001 : 175)

           Leukimia adalah proliferasi tak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sum-sum tulang menggantikan elemen sum-sum tulang normal (Smeltzer, S C and Bare, B.G, 2002 )
Leukimia adalah suatu keganasan pada alat pembuat sel darah berupa proliferasio patologis sel hemopoetik muda yang ditandai oleh adanya kegagalan sum-sum tulang dalam membentuk sel darah normal dan adanya infiltrasi ke jaringan tubuh yang lain. (Arief Mansjoer, dkk, 2002 : 495)
Leukemia berasal dari bahasa yunani yaitu leukos (putih) dan haima (darah). Leukemia adalah jenis kanker yang mempengaruhi sumsum tulang dan jaringan getah bening. Semua kanker bermula di sel, yang membuat darah dan jaringan lainnya. Biasanya, sel-sel akan tumbuh dan membelah diri untuk membentuk sel-sel baru yang dibutuhkan tubuh. Saat sel-sel semakin tua, sel-sel tersebut akan mati dan sel-sel baru akan menggantikannya.

Tetapi terkadang proses yang teratur ini berjalan menyimpang, sel-sel baru ini terbentuk meski tubuh tidak membutuhkannya, dan sel-sel lama tidak mati seperti seharusnya. Kejanggalan ini disebut leukemia, di mana sumsum tulang menghasilkan sel-sel darah putih secara abnormal yang akhirnya mendesak sel-sel lain.
Pengertian lain menjelaskan, Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam sumsum tulang dan limfa. Leukemia mempunyai sifat khusus yaitu proliferasi. Proliferasi merupakan tidak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sumsum tulang, menggantikan elemen sumsum tulang normal. Selain terjadi di dalam sumsum tulang, proliferasi juga terjadi di hati, limpa, dan nodus limfatikus. Terjadi invasi organ nonhematologis seperti meninges, traktus gastrointestinal, ginjal, dan kulit.
Leukemia tergolong akut bila ada proliferasi blastosit (sel darah yang masih muda) dari sumsum tulang. Leukemia akut merupakan keganasan primer sumsum tulang yang berakibat terdesaknya komponen darah normal oleh komponen darah abnormal (blastosit) yang disertai dengan penyebaran organ-organ lain. 

Leukemia tergolong kronis bila ditemukan ekspansi dan akumulasi dari sel tua dan sel muda. Selain akut dan kronik, ada juga leukemia kongenital yaitu leukemia yang ditemukan pada bayi umur 4 minggu atau bayi yang lebih muda.
Terdapat dua mis-konsepsi yang harus diluruskan mengenai leukemia, yaitu:
a)      Leukemia merupakan overproduksi dari sel darah putih, tetapi sering ditemukan pada leukemia akut bahwa jumlah leukosit rendah. Hal ini diakibatkan karena produksi yang dihasilkan adalah sel yang immatur.
b)      Sel immatur tersebut tidak menyerang dan menghancurkan sel darah normal atau jaringan vaskuler. Destruksi seluler diakibatkan proses infiltrasi dan sebagai bagian dari konsekuensi kompetisi untuk mendapatkan elemen makanan metabolik.
           Berdasarkan dari beberapa pengetian diatas maka penulis berpendapat bahwa leukimia adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh prolioferasi abnormal dari sel-sel leukosit yang menyebabkan terjadinya kanker pada alat pembentuk darah.
2.2 ETIOLOGI
            Meskipun pada sebagian besar penderita leukimia faktor-faktor penyebabnya tidak dapat diidentifikasi, tetapi ada beberapa faktor yang terbukti dapat menyebabkan leukimia, yaitu faktor genetik, sinar radioaktif, dan virus dan leukemogenik.
1)          Faktor genetik
                Insiden leukimia akut pada anak-anak penderita sindrom Down adalah 20 kali lebih  banyak     dari pada normal. Kelainan pada kromosom 21 dapat menyebabkan leukimia akut. Insiden leukimia akut juga meningkatkan pada penderita kelainan kongenital dengan aneuloidi, misalnya agranulositosis kongenital, sindrom Ellis van Greveld, penyakit seliak, sindrom Bloom, sindrom trisomi D, sindrom klenefelter.
2)           Sinar radioaktif
   Sinar radioaktif merupakan faktor eksternal yang paling jelas dapat menyebabkan leukimia        pada  binatang maupun pada manusia. Angka kejadian leukimia mieloblastik akut (AML) dan leukimia granulositik kronis (LGK) jelas sekali meningkat sesudah sinar radioaktif. Akhir-akhir ini dibuktikan bahwa penderita yang diobati dengan sinar radioaktif akan menderita leukimia paa 6% klien, dan baru terjadi sesudah 5 tahun.
3)          Virus
    Beberapa virus tertentu sudah dibuktikan menyebabkan leukimia pada binatang. Sampai   sekarang belum dapat dibuktikan bahwa penyebab leukimia pada manusia adalah virus. Meskipun demikian, ada beberapa hasil penelitian yang mendukung teori virus sebagai penyebab leukimia, yaitu enzyme reverse transcriptase ditemukan dalam darah manusia. Seperti diketahui enzim ini ditemukan di dalam virus onkogenik seperti retrovirus tpie C, yaitu jenis virus RNA yang menyebabkan leukimia pada binatang. Enzim tersebut menyebabkan virus yang bersangkutan dapat membentuk bahan genetik yang kemudian bergabung dengan genom yang terinfeksi.
4)             Leukemogenik
      Beberapa zat kimia telah diidentifikasi dapat mempengaruhi frekuensi Leukemia, misalnya racun lingkungan seperti benzena, bahan kimia industri seperti insektisida  serta obat-obatan yang digunakan untuk kemoterapi.
              Leukemia pada umumnya sudah muncul pada diri seseorang sejak usia dini, dimana sumsum tulang tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah memproduksi sel darah putih yang berkembang tidak normal. Secara normal, sel darah putih me-reproduksi ulang bila diperlukan oleh tubuh atau ada tempat bagi sel darah itu sendiri. Tubuh manusia akan memberikan sinyal atau tanda secara teratur apabila sel darah dibutuhkan untuk be-reproduksi kembali Pada kasus Leukemia, sel darah putih ternyata tidak merespon terhadap sinyal yang diberikan sehingga produksi berlebihan dan tidak terkontrol dan akhirnya keluar dari sumsum tulang dan dapat ditemukan di dalam darah perifer atau darah tepi. Seseorang dengan kondisi seperti ini (Leukemia) akan menunjukkan gejala deperti ini : mudah terkena penyakit infeksi, anemia dan pendarahan.

2.3 KLASIFIKASI                            
         Leukimia, mula-mula dijelaskan oleh Virchow pada tahun 1847 sebagai “darah putih”, adalah penyakit neoplastik yang di tandai dengan diferensiasi dan proliferasi sel induk hematopoietik yang secara maligna melakukan transformasi, yang menyebabkan penekanan dan penggantian unsur sumsum yang normal (Greer dkk, 1999). Klasifikasi dari FAB (French-American-British) (Kotak 18-1). Klasifikas ini klasifikasi morfologi dan didasarkan pada diferensiasi dan maturasi sel  leukimia yang dominan dalam sumsum tulang, serta pada penelitian sitokimia (Dabich, 1980;Gralnick dkk, 1977). Sejak laporan awal oleh Gralnick, terdapat subklasifikasi lanjutan yang telah ditambahkan (Bennet dkk, 1985).

        Dengan meningkatnya sitogenetika, biologi molekular dan imunologi telah terjadi dampak yang nyata dalam membedakan sel hematopoietik normal dengan klon maligna. Teknologi imunologi telah meningkatkan klasfikasi dengan mengidentifikasi klon maligna sebagai mieloid, limfoid B, limfoid T, atau bifenotipik (mempunyai ciri khas sel mieloid dan limfoid) (Devine,Larson, 1994; Wujcik, 2000). Analisis sitogenetik menghasilkan banyak pengetahuan mengenai aberasi kromosomal yang terdapat pada pasien dengan leukimia. Perubahan kromosom dapat meliputi perubahan angka, yang menambahkan atau menghilangkan seluruh kromosom, atau perubahan struktur, yang termasuk translokasi, delesi, inversi,dan insersi.Pada situasi ini, dua atau lebih kromosom mengubah bahan genetik, dengan perkembangan gen yang berubah dianggap menyebabkan mulainya proliferasi sel abnormal (Sandberg, 1994). Kromosom Philadelphia (Ph) merupakan contoh perubahan sitogenetik yang ditemukan pada 85% pasien leukimia meiloid kronik dan pada beberapa pasien dengan leukimia limfoid atau meiloid akut. Aksi ini adalah translokasi kromosom 9 dan 22, diidentifikasi sebagai t(9;22). Studi molekular yang mendeteksi perubahan setingkat asam deoksiribonukleat (DNA) lebih lanjut telah menggambarkan kromosom Ph dan variasi berbagai jenis leukimia. Lebih dari 90% anak dengan leukimia limfositik akut memperlihatkan mengalami satu atau ebih aberasi kromosom. Banyak aberasi kromosom telah diidentifikasi dan merupakan diagnostik untuk jenis leukimia tertentu. Identifikasi perubahan ini untuk memprediksi perjalanan klinis, prognosis, dan pencapaian remisi atau relaps (Sandberg, 1994; Wujcik, 2000). Gambaran ini mempunyai dampak yang hebat pada modalitas pengobatan dan seluruh prognosis.

a)    Leukemia Mielogenus Akut (LMA)
LMA mengenai sel sistem hematopoetik yang kelak berdiferensiasi ke semua sel mieloid, monosit, granulosit (basofil, netrofil, eosinofil), eritrosit, dan trombosit. Semua kelompok usia dapat terkena. Insidensi meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi.
b)    Leukemia Mielogenus Kronis (LMK)
LMK juga dimasukkan dalam sistem keganasan sel sistem mieloid. Namun lebih banyak sel normal dibanding bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan. LMK jarang menyerang individu dibawah 20 tahun. Manifestasi mirip dengan gambaran LMA tetapi dengan tanda dan gejala yang lebih ringan. Pasien menunjukkan tanpa gejala selama bertahun-tahun, peningkatan leukosit kadang sampai jumlah yang luar biasa, dan limpa membesar.
c)    Leukemia Limfositik Kronis (LLK)
LLK merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50 – 70 tahun. Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan gejala. Penyakit baru terdiagnosa saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit.
d)    Leukemia Limfositik Akut (LLA)
LLA dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi pada anak-anak, laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Puncak insiden usia 4 tahun, setelah usia 15 tahun. LLA jarang terjadi. Limfosit immatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer sehingga mengganggu perkembangan sel normal.

Leukimia akut menurut klasifikasi FAB (French-American-British) dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
1.      Leukimia mielositik akut/acute myeloid leukimia (LMA/AML). Asuhan keperawatan pada klien dengan leukimia mielositik akut adalah sebagai berikut:
Pengertian:
Leukimia mielositik akut merupakan leukimia yang mengenai sel stem hematopoetik yang kelak berdiferensasi ke semua sel mieloid. LMA merupakan leukimia nonlimfositik yang paling sering terjadi.

Insidensi:
Insiden AML kira-kira 2-3/100.000 penduduk, LMA lebih sering ditemukan pada usia dewasa (85%) daripada anak-anak (15%). Ditemukan lebih sering pada laki-laki daripada wanita.
Klasifikasi.:
Menurut klasifikasi FAB, LMA dibagi menjadi enam jenis, yaitu:
M1       : Leukimia mieloblastik tanpa pematangan
M2       : Leukimia mieloblastik dengan berbagai derajat pematangan
M3       : Leukimia promielositik hipergranular
M4       : Leukimia mielomonositik
M5       : Leukimia monoblastik
M6       : Eritroleukimia
Klasifikasi LLA adalah sebagai berikut.
a.       Secara morfologis, menurut FAB, ALL dibagi menjadi tiga jenis;
L1        : ALL dengan sel limfoblast kecil-kecil dan merupakan 84% dari ALL, biasanya ditemukan pada anak-anak.
L2        : sel lebih besar, inti ireguler, kromatin bergumpal, nukleoli prominen dan sitoplasma agak banyak, merupakan 14% dari ALL, biasanya terjadi pada orang dewasa.
L3        : ALL mirip dengan limfoma burkitt, yaitu sitoplasma basofil dengan banyak vakuola, hanya merupakan 1% dari ALL.
b.      Secara imunofenotipe ALL dapat menjadi empat golongan besar yaitu sebagai berikut.
a)      Common ALL→ frekuensi relatif pada anak-anak 76% dan dewasa 51%
b)      Null ALL→ frekuensi relatif pada anak-anak 12% dan dewasa 38%
c)      T-ALL→ frekuensi relatif pada anak-anak 12%dan dewasa 10%
d)     B-ALL→ frekuensi relatif pada anak-anak 1% dan dewasa 2%

2.4 PATOFISIOLOGI
Manifestasi klinis penderita leukemia akut disebabkan adanya penggantian sel pada sumsum tulang oleh sel leukemik , menyebabkan gangguan produksi sel darah merah. Depresi produksi platelet yang menyebabkan purpura dan kecenderungan terjadinya perdarahan .
Kegagalan mekanisme pertahanan selular karena penggantian sel darah putih oleh sel leukemik, yang menyebabkan tingginya kemungkinan untuk infeksi . Infiltrasi sel-sel leukemik ke organ-organ vital seperti liver dan limpa oleh sel-sel leukemik yang dapat menyebabkan pembesaran dari organ-organ tersebut. Sedangkan pada penderita Leukemia itu sendiri disebabkan oleh :
a)      Normalnya tulang marrow diganti dengan tumor yang malignan, imaturnya sel blast. Adanya proliferasi sel blast, produksi eritrosit dan platelet terganggu sehingga akan menimbulkan anemia dan trombositipenia.
b)      Sistem retikuloendotelial akan terpengaruh dan menyebabkan gangguan sistem pertahanan tubuh dan mudah mengalami infeksi
c)      Manifestasi akan tampak pada gambaran gagalnya bone marrow dan infiltrasi organ, sistem saraf pusat. Gangguan pada nutrisi dan metabolisme. Depresi sumsum tulang yang akan berdampak pada penurunan lekosit, eritrosit, faktor pembekuan dan peningkatan tekanan jaringan.
d)     Adanya infiltrasi pada ekstra medular akan berakibat terjadinya pembesaran hati, limfe,nodus limfe, dan nyeri persendian.      

2.5 MANISFESTASI KLINIS
Manifestasi klinik yang sering dijumpai pada penyakit leukemia adalah sebagai berikut :
1. Pilek tidak sembuh-sembuh
2. Pucat, lesu, mudah terstimulasi
3 .Demam dan anorexia
4 .Berat badan menurun
5. Ptechiae, memar tanpa sebab
6. Nyeri pada tulang dan persendian
7 .Nyeri abdomen
8. Lumphedenopathy
9.  Hepatosplenomegaly
10. Abnormal WBC
(Suriadi & Rita Yuliani, 2001 : hal. 177)

2.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.Pemeriksaan lab darah :
            diambil sedikit darah dari jari atau daun telinga, pemeriksaan jumlah sel darah merah (Hemoglobin), sel darah putih (Leukosit), dan juga trombosit, dan juga pemisahan hitung jenis leukosit.
  2.Pap darah perifer :
            darah hasil Pap akan menunjukkan banyaknya bibit perubahan dalam sel-sel sumsum tulang, sel-sel ini belum menghasilkan sel darah putih yang matang.
  3.Pemeriksaan BMP :
 pengambilan sample darah dari tulang sumsum, lalu dilakukan hitung jenis sel.
Selain pemeriksaan penunjang di atas, pemeriksaan penunjang lainnya adalah :
1.    Hitung darah lengkap : menunjukkan normositik, anemia normositik.
2.    Hemoglobulin : dapat kurang dari 10 gr/100ml.

a. Menurut Sacher (2004), Untuk laki-laki dewasa kadar normal hemoglobin adalah 13,5 -      18,0 gr% perempuan normal adalah 12 - 16 gr%. Wanita hamil normal 11 – 13 gr%.
b. Nilai normal Hb untuk laki-laki adalah 13 gr% - 18 gr%, dan untuk wanita adalah 11,5 gr% - 16,5 gr% (Brooker, 2001).
3. Retikulosit : jumlah biasaya rendah
4. Trombosit : sangat rendah (< 50000/mm)
5. SDP : mungkin lebih dari 50000/cm dengan peningkatan SDP immatur
6. PTT : memanjang
7. LDH : mungkin meningkat
8. Asam urat serum : mungkin meningkat
9. Muramidase serum : pengikatan pada leukemia monositik akut dan mielomonositik
10. Copper serum : meningkat
11. Zink serum : menurun
12. Foto dada dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat keterlibatan

2.7 PENATALAKSANAAN MEDIS

     Protokol pengobatan bervariasi sesuai jenis leukemia dan jenis obat yang diberikan pada anak. Proses induksi remisi pada anak terdiri dari tiga fase : induksi, konsolidasi, dan rumatan. Selama fase induksi (kira-kira 3 sampai 6 minggu) anak menerima berbagai agens kemoterapeutik untuk menimbulkan remisi. Periode intensif diperpanjang 2 sampai 3 minggu selama fase konsolidasi untuk memberantas keterlibatan sistem saraf pusat dan organ vital lain. Terapi rumatan diberikan selama beberapa tahun setelah diagnosis untuk memperpanjang remisi. Beberapa obat yang dipakai untuk leukemia anak-anak adalah prednison (antiinflamasi), vinkristin (antineoplastik), asparaginase (menurunkan kadar asparagin (asam amino untuk pertumbuhan tumor), metotreksat (antimetabolit), merkaptopurin, sitarabin (menginduksi remisi pada pasien dengan leukemia granulositik akut), alopurinol, siklofosfamid (antitumor kuat), dan daunorubisin (menghambat pembelahan sel selama pengobatan leukemia akut). (Betz, Cecily L. 2002. : 302).

Leukemia limfositik akut (ALL)
            Pengelolaan ALL berfokus pada kontrol sumsum tulang dan sistemik (seluruh tubuh) penyakit. Selain itu, pengobatan harus mencegah sel-sel leukemia dari penyebaran ke situs lain, khususnya sistem saraf pusat (SSP) misalnya pungsi lumbal bulanan. Secara umum, pengobatan ALL dibagi menjadi beberapa fase antara lain :
·         Induksi kemoterapi untuk membawa tentang remisi sumsum tulang. Untuk orang dewasa, rencana induksi standar termasuk prednison, vincristine, dan obat anthracycline; rencana obat lain mungkin termasuk L-asparaginase atau cyclophosphamide. Untuk anak-anak dengan risiko rendah semua, terapi standar biasanya terdiri dari tiga obat (prednison, L-asparaginase, dan vincristine) untuk bulan pertama pengobatan.
·         Terapi Konsolidasi atau intensifikasi terapi untuk menghilangkan sel-sel leukemia yang tersisa. Ada banyak pendekatan yang berbeda untuk konsolidasi, tetapi biasanya dosis tinggi, multi-obat pengobatan yang dilakukan selama beberapa bulan. Pasien dengan rendah sampai rata-rata risiko ALL menerima terapi dengan obat antimetabolit seperti metotreksat dan 6-mercaptopurine (6-MP). Pasien berisiko tinggi menerima dosis obat yang lebih tinggi dari obat ini, ditambah obat tambahan.
·         Profilaksis SSP (terapi pencegahan) untuk menghentikan kanker dari menyebar ke otak dan sistem saraf dalam pasien berisiko tinggi. Standar profilaksis mungkin termasuk radiasi dari dan kepala / atau obat disampaikan langsung ke tulang belakang.
·         Pemeliharaan perawatan kemoterapi dengan obat untuk mencegah kambuhnya penyakit setelah remisi telah dicapai. Biasanya melibatkan terapi pemeliharaan dosis obat yang lebih rendah, dan dapat terus sampai tiga tahun.
·         Transplantasi sumsum tulang alogenik mungkin cocok untuk pasien berisiko tinggi atau kambuh.
    Orang-orang dengan leukemia memiliki banyak pilihan pengobatan. Pilihannya adalah menanti sambil waspada (watchful waiting), kemoterapi, targeted terapi, terapi biologi, terapi radiasi, dan transplantasi sel induk. Pilihan pengobatan  tergantung, terutama pada 3 aspek, yaitu jenis kelamin, usia dan apakah sel-sel leukemia ditemukan dalam cairan cerebrospinal Anda.

Pengobatan leukimia akut
            Orang dengan leukemia akut perlu segera dirawat. Tujuan pengobatan adalah untuk menghancurkan tanda-tanda leukemia dalam tubuh dan menghilangkan gejalanya. Ini disebut masa remisi. Setelah orang mengalami remisi, terapi lebih mungkin diberikan untuk mencegah kekambuhan. Jenis terapi ini disebut terapi konsolidasi atau terapi pemeliharaan. Banyak orang dengan leukemia akut dapat disembuhkan.

      Pengobatan awal AML biasanya dimulai dengan kemoterapi induksi, dengan menggunakan kombinasi obat-obatan seperti daunorubisin (DNR), sitarabin (ara-C), idarubicin, thioguanine, etoposide, atau mitoxantrone.      Untuk mengurangi efek samping pengobatan diatas, yang biasanya berbentuk penurunan jumlah sel darah tertentu, maka dokter dapat memberikan terapi-terapi lanjutan melalui antibiotic oral (misalnya, ofloxacin, rifampisin), injeksi dengan G-CSF (granulocyte-colony stimulating factor), ataupun transfusi sel darah merah dan trombosit/platelet.

Jika sel kanker resistan atau kambuh lagi, maka biasanya diberikan antara lain:
  1. Kemoterapi induksi konvensional;
  2. Ara-C(HDAC) dosis tinggi, dengan/tanpa obat-obatan lain dan
  3. Etoposide atau agen kemoterapi tunggal lainnya.
2.8 PROGNOSIS
Prognosis LLA pada anak-anak pada umumnya baik, lebih dari 95% terjadi remisi sempurna. Kira-kira 70%-80% dari klien bebas gejala selama 5 tahun. Apabila terjadi relaps, remisi sempurna kedua dapat terjadi pada sebagian besar kasus. Para klien merupakan kandidat untuk implantasi sumsum tulang dengan 35%-65% kemungkinan hidup.
2.9 KOMPLIKASI
a)      Nyeri tulang (terutama pada tulang belakang atau tulang rusuk)
b)      Pengeroposan tulang sehingga tulang mudah patah.
c)      Anemia
d)      Infeksi bakteri berulang
e)      Gagal ginjal



                


BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
Pengkajian yang dilakukan pada klien dengan leukima adalah sebagai berikut :
1. Riwayat pemajanan pada faktor-faktor pencetus, seperti pemajanan pada dosis besar radiasi, obat-obatan tertentu secara kronis, dan riwayat infeksi virus kronis.
2. Pemeriksaan fisik dapat menunjukkan manisfestasi :
 Pembesaran sumsum tulang dengan sel-sel leukimia yang selanjutnya menekan fungsi sumsum tulang, sehingga menyebabkan beberapa gejala dibawah ini.
a)      Anemia : penurunan berat badan, kelelahan, pucat, malaise, kelemahan, dan anoreksia.
b)      Trombositopenia : perdarahan gusi, mudah memar, petekie, dan ekimosis.
c)      Nertropenia : demam tanpa adanya infeksi, berkeringat malam hari.
Infiltrasi organ lain dengan sel-sel leukimia yang menyebabkan beberapa gejala seperti hepatomegali, spelenomegali, limfadenopati, nyeri tulang dan sendi, serta hipertrofi gusi.
Pemeriksaan Diagnostik
1.      Darah lengkap→menunjukkan adanya penurunan hemoglobin, hematokrit, jumlah sel darah merah dan trombosit. Jumlah sel darah putih meningkat pada leukimia kronis Tetapi juga dapat turun, normal atau tinggi pada leukimia akut.
2.      Aspirasi sumsum tulang dan biopsi memberikan data diagnostik definitif.
3.      Asam urat serum meningkat karena pelepasan oksipurin setelah keluar masuknya sel-sel leukimia cepat dan penggunaan obat sitotoksik.
4.      Sinar X dada→untuk mengetahui luasnya penyakit.
5.      Profil kimia, EKG dan kultur spesimen→untuk menyingkirkan masalah atau penyakit lain yang timbul.
Diagnosis Keperawatan                                                       
1.      Nyeri yang berhubungan dengan infiltrasi leukosit jaringan sistemik.
2.      Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan perubahan proliferatif gastrointestinal dan efek toksik obat kemoterapi.
3.      Kelemahan yang berhubungan dengan anemia.
4.      Gangguan integritas kulit; alopesia yang berhubungan dengan efek toksik kemoterapi.
5.      Berduka yang berhubungan dengan kehilangan kemungkinan terjadi karena perubahab peran dan fungi diri.
6.      Gangguan gambaran diri yang berhubungan dengan perubahan penampilan dalam fungsi dan peran.
Diagnosis Keperawatan 1
Nyeri yang berhubungan dengan infiltrasi leukosit jaringan sistemik.
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri akan berkurang selama 1x4 jam
Kriteria Evaluasi
1.      Melaporkan penurunan tingkat nyeri. 0-3
2.      Menjelaskan bagaimana keletihan dan ketakutan mempengaruhi nyeri.
3.      Menerima medikasi nyeri sesuai dengan yang diresepkan.
4.      Menunjukkan penurunan tanda-tanda fisik dan perilaku tentang nyeri.
5.      Mengambil peran aktif dalam strategi peredaan nyeri.
6.      Menggunakan strategi peredaan nyeri dengan tepat.

Intervensi Keperawatan
Intervensi
Rasional
1. Kaji karakteristik nyeri: lokasi, kualitas, frekuensi, dan durasi.
1. Memberikan dasar untuk mengkaji perubahan pada tingkat nyeri dan mengevaluasi intervensi.
2. Tenangkan klien bahwa Anda mengetahui nyeri yang dirasakannya adalah nyata dan bahwa Anda akan membantu klien dalam mengurangi nyeri tersebut.
2. Rasa takut bahwa nyerinya tidak dianggap nyata dapat meningkatkan ansietas dan mengurangi toleransi nyeri.
3. Kaji faktor lain yang menunjang nyeri, keletihan, dan marah klien.
3. Memberikan data tentang faktor – faktor yang menurunkan kemampuan klien untuk menoleransi nyeri dan meningkatkan tingkat nyeri klien.
4. Berikan analgetik untuk meningkatkan peredaan nyeri optimal dalam batas resep dokter.
4. Analgetik cenderung lebih efektif ketika diberikan secara dini pada siklus nyeri.
5. Kaji respons perilaku klien terhadap nyeri dan pengalaman nyeri.
5. Memberikan informasi tambahan tentang nyeri klien.
6. Berikan dukungan penggunaan strategi pereda nyeri yang telah klien terapkan dengan berhasil pada pengalaman nyeri sebelumnya.
6. Memberikan dorongan strategi peredaan nyeri yang dapat diterima klien keluarga.
7. Ajarkan klien strategi baru untuk meredakan nyeri: distraksi, imajinasi, relaksasi, dan stimulasi kutan.
7. Meningkatkan jumlah pilihan dan strategi yang tersedia bagi klien.

Diagnosis Keperawatan 2
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan efek toksik obat kemoterapi.
Tujuan
Mengurangi mual muntah sebelum, selama dan sesudah pemberian kemoterapi.
Kriteria Evaluasi
1.      Melaporkan penurunan mual
2.      Melaporkan penurunan muntah
3.      Mengonsumsi cairan dan makanan yang adekuat
4.      Menunjukkan penggunaan distraksi, relaksasi dan imajinasi ketika diindikasikan.
5.      Menunjukkan turgor kulit normal dan membran mukosa yang lembab.
6.      Melaporkan tidak adanya penurunan berat badan tambahan.
7.      HB dan ALB
      Menurut Sacher (2004), Untuk laki-laki dewasa kadar normal hemoglobin adalah 13,5 -      18,0 gr% perempuan normal adalah 12 - 16 gr%. Wanita hamil normal 11 – 13 gr%.

Nilai normal Hb untuk laki-laki adalah 13 gr% - 18 gr%, dan untuk wanita adalah 11,5 gr% - 16,5 gr% (Brooker, 2001). 

Intervensi Keperawatan
Intervensi
Rasional
1.Sesuaikan diet sebelum dan sesudah pemberian obat sesuai dengan kesukaan dan toleransi klien.
1. Setiap klien berespons secara berbeda terhadap makanan setelah kemoterapi, makanan kesukaan dapat meredakan mual dan muntah klien
2. Cegah pandangan, bau, dan bunti-bunyi yang tidak menyenangkan lingkungan.
2. sensasi tidak menyenangkan dapat menstimulasi pusat mual dan muntah.
3. Gunakan distraksi, relaksasi dan imajinasi sebelum dan sesudah kemoterapi.
3. Menurunkan ansietas yang dapat menunjang mual muntah.
4. Berikan antiemetik, sedatif dan kortikosteroid yang direspon.
4. Kombinasi terapi obat berupaya untuk mengurangi mual muntah melalui kontrol berbagai faktor pencetus.
5. Pastikan hidrasi cairan yang adekuat sebelum, selama dan sesudah pemberian obat. Kaji intake dan output cairan.
5. Volume cairan yang adekuat akan mengencerkan kadar obat, mengurangi stimulasi reseptor muntah.
6. Berikan dukungan kepada klien agar dapat menjaga personal hygene dengan baik.
6. Mengurangi rasa kecap yang tidak menyenangkan.

Diagnosis Keperawatan 3
Kelemahan yang berhubungan dengan anemia
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan terjadi penurunan tingkat keletihan  1x4 jam
Kriteria Evaluasi
1.      Melaporkan penurunan tingkat keletihan
2.      Meningkatnya keikutsrtaan dalam aktivitas secara bertahap
3.      istirahat ketika mengalami keletihan
4.      Melaporkan dapat tidur lebih baik
5.      Melaporkan energi yang adekuat untuk ikut serta dalam aktivitas
6.      Mengonsumsi diet dengan masukan protein dan kalori yang dianjurkan

Intervensi keperawatan
Intervensi
Rasional
1. Berikan dorongan untuk istirahat beberapa periode selama siang hari, terutama sebelum dan sesudah latihan fisik.
1. Selama istirahat, energi dihemat dan tingkat energi diperbarui. Beberapa kali periode istirahat singkat mungkin lebih bermanfaat dibandingkan satu kali periode istirahat yang panjang.
2. Tingkatkan jam tidur total pada malam hari.
2. Tidur membantu untuk memulihkan tingkat energi.
3. Atur kembali jadwal setiap hari dan atur aktivitas untuk menghemat pemakaian energi.
3. Pengaturan kembali aktivitas dapat mengurangi kehilangan energi dan mengurangi stresor.
4. Berikan masukan protein dan kalori yang adekuat.
4. Penipisan kalori dan protein menurunkan toleransi aktivitas.
5. Berikan dorongan untuk teknik relaksasi imajinasi.
5 Peningkatan relaksasi dan istirahat psikologis dapat menurunkan keletihan fisik.
6. Kolaborasi pemberian produk daerah sesuai yang diresepkan.
6. Penurunan hemoglobin akan mencetuskan klien pada keletihan akibat penurunan ketersediaan oksigen.

Diagnosis keperawatan 4
Kelemahan yang berhubungan dengan anemia
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan terjadi penurunan tingkat keletihan  1x4 jam
Kriteria Evaluasi
1.      Melaporkan penurunan tingkat keletihan
2.      Meningkatnya keikutsrtaan dalam aktivitas secara bertahap
3.      istirahat ketika mengalami keletihan
4.      Melaporkan dapat tidur lebih baik
5.      Melaporkan energi yang adekuat untuk ikut serta dalam aktivitas
6.      Mengonsumsi diet dengan masukan protein dan kalori yang dianjurkan

Intervensi keperawatan
Intervensi
Rasional
1. Berikan dorongan untuk istirahat beberapa periode selama siang hari, terutama sebelum dan sesudah latihan fisik.
1. Selama istirahat, energi dihemat dan tingkat energi diperbarui. Beberapa kali periode istirahat singkat mungkin lebih bermanfaat dibandingkan satu kali periode istirahat yang panjang.
2. Tingkatkan jam tidur total pada malam hari.
2. Tidur membantu untuk memulihkan tingkat energi.
3. Atur kembali jadwal setiap hari dan atur aktivitas untuk menghemat pemakaian energi.
3. Pengaturan kembali aktivitas dapat mengurangi kehilangan energi dan mengurangi stresor.
4. Berikan masukan protein dan kalori yang adekuat.
4. Penipisan kalori dan protein menurunkan toleransi aktivitas.
5. Berikan dorongan untuk teknik relaksasi imajinasi.
5 Peningkatan relaksasi dan istirahat psikologis dapat menurunkan keletihan fisik.
6. Kolaborasi pemberian produk daerah sesuai yang diresepkan.
6. Penurunan hemoglobin akan mencetuskan klien pada keletihan akibat penurunan ketersediaan oksigen.
Berduka yang berhubungan dengan kehilangan, kemungkinan terjadi karena perubahan peran fungsi.
Tujuan
Klien mampu melewati proses berduka dengan sesuai
Kriteria Evaluasi
1.      Klien dan keluarga akan berkembang melalui fase-fase berduka.
2.      Klien dan keluarga mengidentifikasi sumber-sumber yang tersedia untuk membantu strategi koping selama berduka.
3.      Klien dan keluarga menggunakan sumber-sumber dan dukungan secara sesuai.
4.      Klien dan keluarga mendiskusikan kekhawatiran dan perasaan secara terbuka satu sama lain.
5.      Klien dan keluarga menggnkan ekspresi nonverbal tentang kekhawatiran mereka terhadap satu sama lain.

Intervensi  Keperawatan
Intervensi
Rasional
1.Bantu klien untuk mengungkapkan ketakutan, kekhawatiran dan pertanyaan tentang penyakit, pengobatan serta implikasinya di masa yang akan datang.
1. Dasar pengetahuan yang akurat dan meningkatkan akan mengurangi ansietas dan meluruskan miskonsepsi.
2. Berikan dukungan partisipasi aktif dari klien dan keluarganya dalam keputusan perawatan dan pengobatan.
2. Partisipasi aktif akan mempertahankan kemandirian dan kontrol emosi klien.
3. Berikan dukungan agar klien dapat membuang perasaan negatif.
3. hal ini memungkinkan untuk mengekspresikan emosional tanpa kehilangan harga diri.
4. Berikan waktu untuk klien menangis dan mengekspresikan kesedihannya.
4. Perasaan ini diperlukan untuk terjadinya perpisahan dan kerenggangan.
5. Libatkan petugas sesuai dengan yang diinginkan oleh klien dan keluarga.
5. Guna menfasilitasi proses berduka dan perawatan spiritual.
6. Sarankan konseling profesional sesuai yang diindikasikan bagi klien dan keluarganya untuk menghilangkan proses berduka yang patologis.
6. Hal ini menfasilitasi proses berduka.
7. Ciptakan situasi yang memungkinkan untuk beralih melewati proses berduka.
7. proses berduka beragam. Oleh karena itu, untuk menyelesaikan proses berduka, keragaman ini harus dibiarkan terjadi.

Diagnosis Keperawatan 5
Gangguan integritas kulit: alopesia yang berhubungan dengan efek toksik kemoterapi.
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, maka gangguan integritas kulit tidak terjadi.
Kriteria evaluasi
1.      Mengidentifikasi alopesia sebagai potensial efek samping dan pengobatan.
2.      Mengidentifikasi perasaan negatif dan positif serta ancaman terhadap citra diri
3.      Mengungkapkan mengenai adanya kemungkinan kerontokan rambut yang dimiliki
4.      Menyebutkan rasional untuk modifikasi dalam perawatan rambut dan pengobatan.
5.      Melakukan langkah-langkah untuk mengenai kemungkinan kerontokan rambut.

Intervensi  keperawatan
Intervensi
Rasional
1.Diskusikan potensial kerontokan rambut dan pertumbuhan kembali rambut bersama klien dan keluarga
1. Memberikan informasi, sehingga klien dan keluarganya dapat mulai untuk bersiap diri secara kognitif dan emosional terhadap kerontokan.
2. Cegah atau minimalkan dampak kerontokan rambut melalui langkah-langkah berikut ini.
·         Potong rambut yang panjang sebelum pengobatan.
·         Hindari pemakaian sampo yang berlebihan.
·         Menggunakan sampo yang ringan dan kondisioner.
·         Hindari penggunaan pengeriting listrik, pemanas,pengering rambut dan penjepit.
·         Hindari menyisir berlebihan, gunakan sisir yang bergigi lebar.
2. Meminimalkan kerontokan rambut akibat beban berat dan tarikan pada rambut.
3. Cegah trauma pada kulit kepala.
3. Membantu dalam mempertahankan pertumbuhan rambut.
4. Sarankan cara untuk membantu dalam mengatasi kerontokan rambut seperti memakai wig atau mengenakan topi.
4. menyamarkan kerontokan rambut.
5. Jelaskan bahwa pertumbuhan rambut biasanya mulai kembali ketika pengobatan telah selesai.
5. Menenangkan klien bahwa kerontokan rambut biasanya bersifat sementara.

Diagnosis keperawatan 6
Gangguan gambaran diri yang berhubungan dengan perubahan penampilan, fungsi dan peran.
Tujuan
Setelah dilakukan pemberian asuhan keperawatan, maka citra tubuh dan harga diri klien dapat diperbaiki.
Kriteria Evaluasi
1.      Mengidentifikasi  hal-hal yang penting
2.      Mengambil peran aktif dalam aktifitas
3.      Mempertahankan peran sebelumnya dalam pembuatan keputusan
·         Mengungkapkan perasaan dan reaksi  terhadap kehilangan
·         Ikut serta dalam aktivitas perawatan diri
Intervensi keperawatan
Intervensi
Rasional
1. Kaji perasaan klien tentang gambaran dan tingkat harga diri.
1. Setiap klien berespons secara berbeda terhadap makanan setelah kemoterapi, makanan kesukaan dapat meredakan mual muntah klien.
2. Berikan motivasi untuk keikutsertaan yang kontinu dalam aktivitas dan pembuatan keputusan.
2. Memberikan motivasi memungkinkan kontrol kontinu terhadap kejadian dan diri klien.
3. Berikan dukungan pada klien untuk mengungkapkan kekhawatirannya.
3. Mengidentifikasi kekhawatiran merupakan satu tahapan penting dalam mengatasinya.
4. Bantu klien dalam perawatan diri ketika keletihan.
4. Kesejahteraan fisik meningkatkan harga diri.
5. Berikan motivasi pada klien dan pasangannya untuk saling bertbagi kekhawatiran mengenai perubahab fungsi seksual.
5. Memberikan kesempatan untuk mengekspresikan kekhawatirannya.












BAB 4
KESIMPULAN

            Leukimia atau kanker darah adalah keganasan pada organ pembuat sel darah, berupa proliferasi patologis sel hemapoetik muda yang ditandai oleh adanya kegagalan sumsum tulang dalam membentuk sel darah normal dan disertai infiltrasi keorgan-organ lain.
     Etiologi pada leukimia anatara lain :
1.      Faktor genetik
2.      Sinar radioaktif
3.      Virus
4.      Leukemogenik
Klasifikasi pada leukimia antara lain :
1.      Leukimia mielogenus akut (LMA)
2.      Leukimia mielogenus kronis (LMK)
3.      Leukimia limfositik kronis (LLK)
4.      Leukimia limfositik akut (LLA)
Manisfestasi klinis pada leukimia antara lain :
1.      Pilek
2.      Pucat
3.      Dema
Komplikasi pada leukimia antara lain :
a)      Nyeri tulang (terutama pada tulang belakang atau tulang rusuk)
b)      Pengeroposan tulang sehingga tulang mudah patah.
c)      Anemia
d)      Infeksi bakteri berulang
e)      Gagal ginjal


DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi. 2007. Penyebab leukimia. http://opensains.wordpress.com/2009/07/27/penyebab-penyakit-leukemia-dan-pengobatannya/ Diakses tanggal 14-09-2012 pukul 19.05
Handayani, W. & Andi Sulistyo Haribowo, 2008, ASUHAN KEPERAWATAN Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Hematology, Jakarta: Salemba Medika
Mehta, A. & Victor Hoffbrand, 2006, At A Glance Hematology Edisi Kedua, Jakarta: Erlangga
Muttaqin, A. 2009. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler dan Hematology, Jakarta: Salemba Medika
Prince, S. A. 2005. Patofiologi. Jakarta :ECG


Tidak ada komentar:

Posting Komentar